๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 40: BERKABUNG

← BAB 39: PERTARUNGAN DI MARKAS BAB 41: FITNAH →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Tiga hari telah berlalu sejak kejadian di markas Mawar Hitam. Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er kini berada di sebuah hutan di kaki Gunung Qingcheng. Mereka tidak kembali ke gubuk Xuan Qingzi โ€” terlalu banyak kenangan. Terlalu banyak luka.

Mereka mendirikan tenda darurat di dekat sungai kecil. Udara sejuk, burung-burung bernyanyi riang, seolah dunia tidak peduli dengan kesedihan yang dirasakan Tianji.

Tianji duduk di tepi sungai, matanya kosong menatap air yang mengalir. Cincin giok dari ibunya melingkar di jari manisnya, berkilau dalam sinar matahari pagi. Surat gurunya ada di pangkuannya, sudah kusut karena sering dibaca.

Yue'er duduk di sampingnya, tidak jauh. Ia sudah mencoba berbagai cara untuk menghibur Tianji โ€” dari bercanda, bercerita, sampai diam. Tapi Tianji seperti batu, tidak bereaksi terhadap apa pun.

"Kau tahu," kata Yue'er akhirnya, memecahkan keheningan. "Air sungai itu mengalir terus, kan? Tidak pernah berhenti. Bahkan ketika ada batu besar menghalangi, ia akan mencari jalan lain. Kadang ia mengikis batu itu pelan-pelan. Kadang ia mengalir di sekitarnya. Tapi ia tidak pernah berhenti."

Tianji tidak menjawab.

"Aku rasa, manusia juga harus seperti itu," lanjut Yue'er. "Kita tidak bisa berhenti hidup hanya karena ada rintangan. Kita harus terus mengalir, terus maju."

"Apa kau tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kau cintai?" Tianji bertanya, suaranya datar.

Yue'er terdiam. Ia sudah menjawab pertanyaan itu sebelumnya. Tapi ia mengerti, Tianji butuh diingatkan.

"Aku kehilangan ibuku," katanya pelan. "Tapi aku tahu itu tidak sama. Ibuku meninggal karena sakit. Gurumu… gurumu dikorbankan. Itu lebih berat."

"Bukan itu maksudku." Tianji menggeleng. "Maksudku… guruku adalah satu-satunya keluargaku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Ayah dan ibuku sudah mati sebelum aku sempat mengenal mereka. Guruku adalah ayah dan ibuku sekaligus. Dan sekarang… dia juga pergi."

Tianji menunduk, pundaknya bergetar. "Aku benar-benar sendiri sekarang."

"Kau tidak sendiri," kata Yue'er, suaranya tegas. "Kau punya aku. Kau punya Xiao Yu'er. Kami mungkin bukan keluarga darahmu, tapi kami adalah keluargamu sekarang."

"Kalian akan pergi suatu hari," kata Tianji. "Semua orang pasti pergi."

"Mungkin. Tapi tidak sekarang. Dan tidak dalam waktu dekat." Yue'er meraih tangan Tianji, menggenggamnya erat. "Aku bersumpah, Tianji. Selama aku masih hidup, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan ada di sampingmu, apa pun yang terjadi."

Tianji menatapnya. Matanya yang tadinya kosong kini perlahan berisi โ€” bukan kebahagiaan, tapi setidaknya tidak lagi kosong.

"Kenapa?" tanyanya. "Kenapa kau begitu baik padaku? Apa yang kau dapat dari ini?"

"Apa yang kudapat?" Yue'er tersenyum. "Aku mendapat teman. Aku mendapat seseorang yang bisa kuajak bicara. Aku mendapat seseorang yang membuatku merasa hidup."

"Aku tidak mengerti."

"Kau tidak perlu mengerti," kata Yue'er, tertawa kecil. "Cukup terima saja."

Mereka duduk diam untuk sementara waktu. Suara sungai mengalir, burung bernyanyi, angin berdesir di antara dedaunan. Alam seolah memberi mereka ruang untuk bernapas, untuk sejenak melupakan kesedihan.

"Yue'er," panggil Tianji akhirnya.

"Ya?"

"Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Yue'er mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Guruku bilang aku harus mencari Makam Naga Laut. Tapi… untuk apa? Untuk menjadi lebih kuat? Untuk membunuh Lord Hitam?" Tianji menghela napas panjang. "Aku tidak tahu apakah itu yang benar. Mungkin dendam ini akan menghancurkan diriku sendiri."

"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu untukmu," kata Yue'er. "Tapi aku bisa memberimu pendapat."

"Silakan."

"Aku rasa… tidak ada yang salah dengan dendam. Selama kau tidak membiarkannya mengendalikanmu." Yue'er menatap Tianji dengan serius. "Dendam bisa menjadi motivasi. Tapi ia juga bisa menjadi racun. Perbedaannya ada di cara kau menggunakannya."

"Jadi, kau pikir aku harus mencari Makam Naga Laut?"

"Aku pikir kau harus mencari apa pun yang bisa memberimu kedamaian," kata Yue'er. "Jika Makam Naga Laut adalah jawabannya, maka pergilah. Tapi jika kau pergi hanya untuk dendam, kau tidak akan menemukan apa pun selain kehancuran."

"Tapi aku berjanji pada guruku…"

"Kau berjanji untuk menemukan Makam Naga Laut dan mengalahkan Lord Hitam," potong Yue'er. "Tapi itu tidak berarti kau harus melakukannya dengan dendam di hatimu. Kau bisa melakukannya dengan cinta. Dengan kenangan tentang gurumu. Dengan harapan untuk masa depan yang lebih baik."

Tianji merenungkan kata-kata Yue'er. Ia tidak pernah melihatnya dari sudut pandang itu.

"Kau sangat bijaksana," katanya pelan.

"Aku?" Yue'er tertawa. "Aku hanya banyak bicara. Kadang, dari banyak bicara itu, ada juga hal yang berguna."

"Kau lebih dari sekadar banyak bicara," kata Tianji. "Kau… kau istimewa."

Yue'er berhenti tertawa. Wajahnya memerah. "A-apa yang kau katakan?"

"Aku bilang kau istimewa," ulang Tianji. "Selama beberapa hari ini, kau adalah satu-satunya alasan aku tidak benar-benar hancur. Kau selalu ada. Selalu bicara, bahkan ketika aku tidak ingin mendengarmu. Tapi… aku rasa, itu yang membuatku tetap waras."

Yue'er tidak tahu harus berkata apa. Jantungnya berdetak kencang. Ini pertama kalinya Tianji mengatakan sesuatu yang begitu tulus tentang dirinya.

"Aku… eh… terima kasih?" akhirnya ia berhasil berkata. "Aku hanya melakukan tugasku sebagai pengawal."

"Kau lebih dari sekadar pengawal," kata Tianji. "Kau adalah… temanku. Mungkin satu-satunya teman sejati yang pernah kumiliki."

"Xiao Yu'er juga temanmu," kata Yue'er, berusaha mengalihkan perhatian dari perasaannya sendiri.

"Xiao Yu'er adalah saudara seperguruanku. Itu berbeda. Tapi kau… kau datang tanpa alasan. Kau memilih untuk bersamaku. Itu… berarti."

Yue'er menunduk, rambutnya menutupi wajahnya yang memerah. "Aku memilih untuk bersamamu karena… karena aku peduli padamu. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena kau menarik. Atau karena kau kuat. Atau karena kau membuatku ingin menjadi lebih baik. Aku tidak tahu."

"Sekarang kita sama-sama tidak tahu," kata Tianji, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia tersenyum.

Senyum itu tipis. Rapuh. Tapi itu adalah senyum.

"Kau tersenyum!" Yue'er berseru. "Akhirnya kau tersenyum!"

"Aku tidak bisa terus menangis selamanya," kata Tianji. "Guruku tidak akan menginginkanku seperti itu."

"Benar! Nah, sekarang kita bicarakan rencana ke depan. Aku sudah berpikir," Yue'er berdiri, tangannya bergerak-gerak bersemangat. "Pertama, kita harus kembali ke gubuk gurumu. Ada beberapa barang yang mungkin berguna. Kedua, kita perlu mencari informasi tentang Makam Naga Laut. Pasti ada catatan atau buku di perpustakaan gurumu. Ketigaโ€”"

"Yue'er," potong Tianji.

"Apa?"

"Kau bicara terlalu cepat."

"Oh. Maaf. Aku bersemangat." Yue'er tertawa canggung. "Tapi serius, kita harus punya rencana."

"Aku setuju." Tianji berdiri, menatap ke arah Gunung Qingcheng. "Tapi pertama, aku harus melakukan sesuatu."

"Apa?"

"Aku harus menguburkan guruku dengan layak."

Yue'er mengangguk mengerti. "Tentu. Ayo kubantu."

Mereka kembali ke reruntuhan markas Mawar Hitam. Mayat Xuan Qingzi masih di sana, terbaring tenang. Tianji menggendong gurunya dengan hati-hati, membawanya ke sebuah bukit kecil di dekat gubuk, tempat yang sering dikunjungi Xuan Qingzi saat masih hidup.

Di bawah pohon pinus tua, Tianji menggali kuburan. Dengan tangannya sendiri. Ia tidak mau menggunakan pedang atau alat lain. Ia ingin merasakan tanah di jari-jarinya, ingin setiap butir tanah yang ia pindahkan menjadi penghormatan terakhir untuk gurunya.

Yue'er dan Xiao Yu'er membantunya. Mereka bekerja dalam diam, hanya suara tanah yang dipindahkan dan desiran angin yang menemani.

Ketika kuburan selesai, Tianji meletakkan tubuh gurunya di dalam. Ia menatap wajah gurunya untuk terakhir kalinya. Damai. Seperti sedang tidur.

"Selamat jalan, Guru," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya. Untuk setiap pelajaran yang kau berikan. Untuk setiap tamparan yang kau berikan saat aku malas. Untuk setiap senyum yang kau sembunyikan saat aku berhasil melakukan sesuatu dengan benar."

Ia mengambil segenggam tanah, menaburkannya di atas tubuh gurunya.

"Aku akan mencari Makam Naga Laut. Aku akan menjadi lebih kuat. Tapi aku tidak akan melupakan pesanmu. Aku tidak akan membiarkan dendam menguasai hatiku. Aku akan hidup. Benar-benar hidup. Untukmu. Untuk ayah dan ibuku."

Ia menutup kuburan itu dengan tanah, lalu mendirikan nisan dari kayu pinus. Di atasnya ia mengukir:

"XUAN QINGZI GURU, AYAH, IBU SEORANG PENDEKAR SEJATI"

Tianji berlutut di depan kuburan, menekankan kepalanya ke tanah. Tiga kali ia bersujud, sesuai tradisi penghormatan tertinggi.

Setelah selesai, ia berdiri. Wajahnya tenang. Matanya tidak lagi kosong โ€” ada api di dalamnya, tapi api yang terkendali.

"Sekarang," katanya, berbalik ke arah Yue'er dan Xiao Yu'er. "Kita mulai perjalanan yang sesungguhnya."

"Ke Makam Naga Laut?" tanya Xiao Yu'er.

"Ya. Tapi pertama, kita kembali ke gubuk. Ada beberapa buku yang harus kuperiksa. Guruku pasti meninggalkan petunjuk."

Mereka berjalan kembali ke gubuk. Gubuk itu masih seperti yang mereka tinggalkan โ€” rapi, tenang, dan sepi. Tapi kini tanpa kehadiran Xuan Qingzi, segalanya terasa hampa.

Tianji masuk ke kamar gurunya. Di sudut ruangan, ada peti kayu tua yang terkunci. Ia ingat gurunya pernah bilang, peti itu berisi barang-barang berharga. Tapi gurunya tidak pernah memberitahu apa isinya.

"Cincin giok ini… mungkin bisa membukanya," gumam Tianji.

Ia mendekatkan cincin itu ke lubang kunci. Tepat pas. Dengan hati-hati, ia memutar cincin itu, dan terdengar bunyi klik. Peti terbuka.

Di dalamnya, ada beberapa buku kuno, sebuah pedang pendek berhias giok, dan sebuah gulungan kulit yang sudah menguning.

Tianji mengambil gulungan itu dan membukanya. Di dalamnya, ada peta yang digambar dengan tinta hitam. Gunung, sungai, lembah โ€” semua digambar dengan detail yang luar biasa. Di ujung peta, ada sebuah simbol yang tidak ia kenali โ€” naga melingkar dengan mutiara di mulutnya.

"Ini pasti peta ke Makam Naga Laut," bisiknya.

"Hebat!" Yue'er berseru dari belakangnya. "Gurumu memang menyiapkan semuanya untukmu."

"Sepertinya dia memang berharap aku akan menemukan ini suatu hari," kata Tianji. "Dia tahu dia mungkin tidak akan selamat dari pertemuannya dengan Lord Hitam. Jadi dia meninggalkan petunjuk."

"Dia mencintaimu," kata Yue'er pelan. "Seperti seorang ayah yang mencintai anaknya."

Tianji tersenyum sedih. "Ya. Aku tahu. Meskipun dia tidak pernah mengatakannya dengan kata-kata."

Ia menggulung peta itu, menyimpannya dengan hati-hati. Lalu ia mengambil pedang pendek berhias giok itu. Pedang itu kecil, hanya sepanjang lengan, tapi bilahnya berkilau tajam. Di gagangnya, terukir nama: "Lin Xue."

"Ini pedang ibuku," bisik Tianji, suaranya bergetar.

"Cocok untukmu," kata Yue'er. "Kau bisa menggunakannya sebagai senjata cadangan."

Tianji mengangguk. Ia mengikat pedang itu di pinggangnya, bersebelahan dengan pedang utamanya.

Ia merasa lebih dekat dengan ibunya sekarang. Dan dengan gurunya.

"Baiklah," katanya, berbalik ke arah Yue'er dan Xiao Yu'er. "Kita punya peta. Kita punya tujuan. Tapi perjalanan ke Makam Naga Laut tidak akan mudah. Peta ini menunjukkan jalan melalui Gunung Es Abadi, Lembah Seribu Bayangan, dan berakhir di Lautan Timur."

"Gunung Es Abadi?" ulang Xiao Yu'er, wajahnya pucat. "Aku pernah mendengar tentang tempat itu. Konon, siapa pun yang masuk tidak pernah kembali."

"Itulah gunanya," kata Tianji. "Makam Naga Laut pasti dijaga dengan sangat ketat. Jika sembarang orang bisa masuk, rahasia Penyerap Lautan sudah lama bocor."

"Kau tidak takut?" tanya Yue'er.

"Takut?" Tianji merenung. "Tentu aku takut. Tapi lebih takut lagi jika aku harus hidup dalam kelemahan, tidak bisa melindungi siapa pun yang kucintai."

"Nah, kalau begitu, kita berangkat!" Yue'er mengepalkan tangannya dengan semangat. "Petualangan baru! Makam Naga Laut! Ayo cari harta karunnya!"

"Ini bukan harta karun," kata Tianji.

"Tapi tetap seru!" Yue'er tidak peduli. "Aku sudah bosan dengan markas Mawar Hitam. Aku ingin melihat tempat baru. Bertemu orang baru. Mungkin bertemu monster naga sungguhan!"

"Monster naga tidak ada," kata Xiao Yu'er datar.

"Kau tidak tahu! Mungkin naga itu ada. Hanya saja belum ada yang melihatnya."

"Kalau belum ada yang melihatnya, bagaimana kau bisa yakin?"

"Itulah gunanya imajinasi, Xiao Yu'er! Kau harus punya imajinasi!"

Tianji tersenyum mendengar pertengkaran mereka. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Mungkin karena ia punya tujuan. Atau mungkin karena ia tidak sendirian.

"Mari kita berangkat," katanya. "Makin cepat kita mulai, makin cepat kita sampai."

Mereka meninggalkan gubuk itu. Tianji menoleh sekali lagi, menatap tempat yang telah menjadi rumahnya selama enam belas tahun. Kenangan demi kenangan melintas di benaknya.

"Selamat tinggal, Guru," bisiknya. "Sampai kita bertemu lagi."

Dan mereka pun berjalan ke timur, menuju Matahari terbit, menuju petualangan baru, menuju takdir yang belum tertulis.

Di tangannya, cincin giok ibunya berkilau. Di pinggangnya, pedang ibunya tergantung. Di hati dan pikirannya, ajaran gurunya hidup selamanya.

Tianji tidak lagi menjadi anak kecil yang kehilangan orang tua.

Ia adalah Penyerap Lautan. Pendekar yang akan menaklukkan lautan, mengungkap rahasia masa lalu, dan menentukan nasib dunia persilatan.

Perjalanan baru telah dimulai.

โ€” BERSAMBUNG โ€”

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 39: PERTARUNGAN DI MARKAS BAB 41: FITNAH →