📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 39: PERTARUNGAN DI MARKAS

← BAB 38: MARKAS MAWAR HITAM BAB 40: BERKABUNG →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Tianji terbangun di tepi sungai, tubuhnya basah kuyup, dingin menggigil menyelusup ke tulang. Kabut pagi masih menggantung rendah, membuat segalanya tampak suram. Ia mendongak, mencari Yue'er dan Xiao Yu'er. Mereka terbaring tidak jauh darinya, masih pingsan.

"Yue'er… Xiao Yu'er…" panggilnya, suara serak.

Yue'er mengerang pelan, lalu membuka matanya. "Tianji… apa yang terjadi?"

"Kita selamat," kata Tianji, suaranya datar. "Tapi guruku…"

Yue'er ingat. Ledakan itu. Cahaya putih yang membutakan. Xuan Qingzi yang mengorbankan dirinya.

Ia duduk, tubuhnya terasa remuk. "Maafkan aku, Tianji. Aku tahu betapa beratnya…"

"Jangan." Tianji menggeleng. "Jangan minta maaf. Ini keputusan guruku. Aku hanya… aku hanya tidak bisa menerimanya."

"Dia melakukannya untukmu," kata Yue'er pelan. "Untuk menyelamatkanmu."

"Aku tahu. Tapi itu tidak membuat segalanya lebih mudah."

Xiao Yu'er mulai sadar. Ia mengerang, memegang kepalanya yang pusing. "Di mana kita?"

"Di suatu tempat di hilir sungai," jawab Yue'er. "Aku tidak tahu persisnya di mana."

Tianji berdiri, tubuhnya goyah, tapi ia memaksakan diri untuk tegar. Ia memeriksa sekeliling. Hutan lebat di kedua sisi sungai. Tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia.

"Kita harus kembali ke markas," katanya.

"Apa?!" Yue'er terkejut. "Kau gila? Markasnya sudah hancur! Mungkin sudah runtuh semua!"

"Atau mungkin tidak," kata Tianji. "Aku harus memastikan. Aku harus melihat sendiri."

"Tianji, guru mu sudah…"

"Aku tahu!" potong Tianji, suaranya keras. "Tapi aku harus melihatnya dengan mataku sendiri. Aku harus… aku harus memberinya penghormatan terakhir."

Yue'er menatapnya. Matanya penuh simpati. "Baiklah. Tapi kita harus berhati-hati. Mungkin masih ada anggota Mawar Hitam yang selamat."

Mereka berjalan kembali ke arah air terjun. Perjalanan yang terasa berat — tubuh mereka masih lemah, pakaian basah, dan hati mereka penuh duka. Tapi Tianji memaksakan diri. Ia tidak akan berhenti sampai ia melihat gurunya.

Ketika mereka sampai, pemandangan di depan mereka sungguh menghancurkan hati. Air terjun itu masih mengalir, tapi tebing di belakangnya hancur sebagian. Batu-batu besar berserakan. Sisa-sisa markas Mawar Hitam tampak dari luar — reruntuhan yang masih berasap.

Tianji masuk melalui celah yang lebih lebar dari sebelumnya. Dinding markas telah runtuh di beberapa bagian, menciptakan lubang besar yang memungkinkan cahaya matahari masuk. Aula besar itu kini hancur. Patung mawar hitam giok terbelah menjadi dua.

Dan di tengah reruntuhan itu, Tianji melihatnya.

Xuan Qingzi terbaring di lantai, tubuhnya penuh luka. Jubah putihnya kini merah oleh darah. Tapi matanya masih terbuka — mentap langit-langit yang sebagian sudah runtuh.

Tianji berlari ke arahnya. "Guru!"

Ia berlutut di samping gurunya, tangannya meraih tangan Xuan Qingzi. Tangan itu dingin. Sangat dingin.

"Guru… aku di sini. Aku kembali."

Xuan Qingzi berkedip pelan. Matanya perlahan beralih ke Tianji. Senyum tipis terukir di bibirnya.

"Anakku… kau kembali," bisiknya, suara nyaris tidak terdengar.

"Aku tidak akan meninggalkan Guru," kata Tianji, air mata mengalir deras.

"Kau harus… kau harus pergi… dari sini," kata Xuan Qingzi, susah payah. "Lord Hitam… dia selamat. Aku… tidak berhasil membunuhnya."

Tianji terkejut. "Apa?"

"Dia… terlalu kuat," kata Xuan Qingzi. "Aku mengeluarkan seluruh tenaga dalamku… tapi dia masih sempat… melindungi dirinya. Dia terluka parah… tapi dia masih hidup."

Di kejauhan, suara batu bergeser terdengar. Dari balik reruntuhan, sosok Lord Hitam muncul. Jubah hitamnya robek. Wajahnya penuh luka bakar. Darah mengalir dari sudut mulutnya. Tapi ia masih berdiri. Masih hidup.

"Xuan Qingzi," katanya, suaranya serak. "Kau hampir berhasil. Tapi hampir tidak cukup."

Tianji berdiri, pedangnya terhunus. Matanya menyala dengan api kebencian.

"Kau," desisnya. "Kau akan kubunuh."

"Tianji, jangan…" Xuan Qingzi meraih tangannya, tapi tenaganya sudah hampir habis. "Dia terlalu kuat… bahkan dalam keadaan terluka…"

"Aku tidak peduli," kata Tianji. "Aku akan membunuhnya. Untuk ayahku. Untuk ibuku. Untuk guruku."

Lord Hitam tertawa. Tawa yang terputus-putus karena batuk darah. "Anak muda yang sombong. Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Ilmu pedangmu masih mentah. Kekuatanmu masih lemah. Bahkan gurumu yang hebat pun tidak bisa mengalahkanku."

"Maka aku akan menjadi lebih hebat darinya," kata Tianji.

Ia melompat maju, pedangnya menyambar ke arah leher Lord Hitam. Tapi Lord Hitam, meskipun terluka parah, masih cukup cepat. Ia mengelak dengan gerakan yang hampir tidak terlihat, lalu tangannya bergerak seperti cambuk, mengenai pergelangan tangan Tianji.

Pedang Tianji terlepas.

"Lihat?" Lord Hitam menyeringai. "Kau bahkan tidak bisa memegang pedangmu."

Tianji tidak menyerah. Ia mengambil pedangnya yang jatuh, lalu menyerang lagi. Kali ini dengan pola yang lebih rumit — Ilmu Pedang Penyerap Lautan jurus ketiga, Ombak Bergulung. Jurus ini meniru kekuatan ombak yang datang bergulung-gulung, setiap gelombang lebih kuat dari yang sebelumnya. Tianji mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya, pedangnya berubah menjadi serangkaian bayangan yang memusingkan.

"Mematikan, bukan?" teriak Tianji sambil terus menekan. "Rasakan kekalahan!"

Namun Lord Hitam hanya tersenyum. "Anak muda, kau belum mengerti esensi sejati dari ilmu pedang. Bukan kecepatan atau kekuatan yang menentukan pemenang. Tapi pengalaman."

Ia bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, menghindari setiap tebasan Tianji seolah-olah ia sudah hafal semua gerakannya. Tubuhnya meliuk seperti ular, menghindari ujung pedang yang hanya berjarak sehelai rambut dari lehernya. Dan kemudian, ia menyerang balik.

"Jurus keempat — Gelombang Pasang!" teriak Tianji, mengubah pola serangannya di tengah jalan.

Lord Hitam terkejut. Ia tidak menyangka Tianji masih memiliki energi untuk mengubah jurus di saat-saat kritis. Untuk sesaat, ia hampir kewalahan. Tapi hanya hampir.

"Bagus," akunya. "Kau cepat belajar. Tapi…"

Satu pukulan. Hanya satu. Lord Hitam bergerak di antara dua tebasan Tianji, dan telapak tangannya yang terbuka menghantam dada Tianji dengan kekuatan yang luar biasa. Tianji terpental ke belakang, jatuh ke reruntuhan, mulutnya mengeluarkan semburan darah.

"Tianji!" Yue'er berteriak, berlari ke arahnya.

"Aku… baik-baik saja," kata Tianji, mencoba berdiri. Tapi dadanya terasa seperti terbakar. Tulang rusuknya mungkin retak.

"Kau lihat?" Lord Hitam berjalan mendekat, langkahnya tak terburu-buru. "Inilah perbedaan antara kita. Aku telah berlatih selama puluhan tahun. Kau baru berlatih selama bertahun-tahun. Ini bukan pertarungan. Ini pembantaian."

"Kalau begitu, kau akan membunuhku?" tanya Tianji, matanya menantang.

"Membunuhmu? Tidak." Lord Hitam menggeleng. "Membunuhmu sekarang akan terlalu mudah. Aku ingin kau hidup. Aku ingin kau merasakan kehilangan. Aku ingin kau tumbuh dalam dendam, menjadi lebih kuat, sehingga suatu hari nanti… kau bisa menjadi lawan yang layak."

"Kau gila."

"Mungkin. Tapi begitulah cara kerja dunia ini." Lord Hitam berbalik, berjalan menjauh. "Aku akan pergi sekarang. Tapi ingat, Tianji. Suatu hari kita akan bertemu lagi. Dan saat itu, aku akan membunuhmu."

"Jangan kau berani pergi!" Tianji mencoba berdiri, tapi tubuhnya tidak mau menurut.

"Tianji, cukup!" Yue'er memeluknya, menahannya. "Kau akan mati!"

"Biarkan aku mati!"

"Tidak!" Yue'er berteriak. "Aku tidak akan membiarkanmu mati! Bukan hari ini! Bukan untuk pria gila seperti dia!"

Lord Hitam tertawa, lalu menghilang di balik reruntuhan, bayangannya lenyap seperti asap.

Tianji jatuh ke pelukan Yue'er, tubuhnya lemas, air mata mengalir tanpa henti. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kalah. Bukan hanya dalam pertarungan, tapi dalam hidup.

"Yue'er," bisiknya. "Aku gagal. Aku gagal menyelamatkan guruku. Aku gagal membunuh Lord Hitam. Aku gagal… menjadi seperti yang diharapkan ayah dan ibuku."

"Kau tidak gagal," kata Yue'er, suaranya lembut tapi tegas. "Kau masih hidup. Dan selama kau masih hidup, masih ada kesempatan."

"Tapi guruku…"

Dari belakang mereka, suara lemah terdengar. "Tianji…"

Mereka berbalik. Xuan Qingzi masih hidup. Masih bernapas. Tapi napasnya semakin lemah.

"Guru!" Tianji merangkak ke samping gurunya.

"Dengarkan," kata Xuan Qingzi, suaranya hampir berbisik. "Aku tidak punya banyak waktu. Ada satu hal lagi… yang harus kau ketahui."

"Apa itu, Guru?"

"Cincin giok itu…" Xuan Qingzi menunjuk cincin di tangan Tianji. "Itu bukan hanya pusaka. Itu adalah kunci."

"Kunci? Kunci apa?"

"Di Markas Pusat… ada ruang rahasia. Hanya bisa dibuka dengan cincin ini. Di dalamnya… ada surat wasiat ayahmu. Dan peta…"

"Peta apa?"

"Peta ke… Makam Naga Laut. Di sana… tersimpan rahasia terbesar dari Penyerap Lautan. Kekuatan yang bisa… mengalahkan Lord Hitam."

Tianji tertegun. "Kekuatan Penyerap Lautan?"

"Ilmu yang kau pelajari… hanya pecahan. Sebagian kecil dari yang asli. Kekuatan penuhnya… tersembunyi di Makam Naga Laut. Kau harus menemukannya. Hanya dengan itu… kau bisa mengalahkan Lord Hitam."

"Tapi di mana Makam Naga Laut?"

Xuan Qingzi tersenyum. Peta itu… akan menunjukkan jalannya. Tapi kau harus berhati-hati… perjalanan ke sana penuh bahaya. Banyak yang telah mencoba… dan tidak pernah kembali."

"Aku akan berhasil, Guru. Aku janji."

"Bagus." Xuan Qingzi mengangkat tangannya yang lemah, menyentuh wajah Tianji. "Kau sudah tumbuh menjadi pria yang hebat… lebih hebat dari yang pernah kubayangkan. Ayah dan ibumu… pasti bangga padamu."

"Guru…"

"Jangan menangis untukku, anakku. Aku sudah hidup cukup lama. Aku sudah melihatmu tumbuh. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hidupku berarti."

Xuan Qingzi tersenyum untuk terakhir kalinya. Matanya yang redup menatap Tianji dengan penuh cinta — cinta yang selama ini tidak pernah ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia ingin berkata banyak hal, tapi tenaganya sudah habis. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap muridnya, menghafalkan wajah itu di ingatannya yang sekarat.

"Tianji," bisiknya, nyaris tidak terdengar. "Kau adalah… kebanggaan terbesarku. Jangan pernah… meragukan dirimu sendiri."

"Guru, aku tidak bisa hidup tanpamu," isak Tianji, air matanya jatuh di wajah gurunya. "Kau adalah segalanya bagiku."

"Kau… bisa. Kau kuat. Lebih kuat dari yang kau kira." Xuan Qingzi terbatuk, darah segar mengalir dari sudut mulutnya. "Ingat… lautan tidak pernah tenang selamanya. Tapi pelaut sejati… tidak takut badai."

"Guru…"

"Selamat jalan, anakku. Hiduplah dengan baik. Cintailah dengan tulus. Dan jangan biarkan dendam… menguasai hatimu."

Tangannya jatuh. Matanya tertutup. Napasnya berhenti.

Xuan Qingzi telah tiada.

Tianji berlutut di samping gurunya, tubuhnya gemetar. Ia ingin berteriak. Ia ingin memanggil nama gurunya. Tapi suaranya tidak mau keluar. Hanya air mata yang terus mengalir.

Yue'er dan Xiao Yu'er berdiri di belakangnya, diam. Tidak ada kata-kata yang bisa menghibur. Tidak ada pelukan yang bisa meredakan sakit. Mereka hanya bisa hadir, menjadi saksi dari kehilangan yang paling pedih dalam hidup Tianji.

Matahari perlahan naik, menyinari reruntuhan markas Mawar Hitam. Di tengah kehancuran itu, Tianji masih berlutut, tangannya memegang erat cincin giok dari ibunya.

Di dalam hatinya, satu tekad mulai terbentuk.

Ia akan menemukan Makam Naga Laut. Ia akan menguasai kekuatan penuh Penyerap Lautan. Dan suatu hari… suatu hari ia akan membalaskan kematian ayahnya, ibunya, dan gurunya.

Lord Hitam boleh lolos hari ini. Tapi mereka akan bertemu lagi.

Dan saat itu, Tianji tidak akan lagi menjadi anak muda yang lemah.

Ia akan menjadi pendekar yang tak terkalahkan.

Penyerap Lautan yang sebenarnya.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 38: MARKAS MAWAR HITAM BAB 40: BERKABUNG →