📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 38: MARKAS MAWAR HITAM

← BAB 37: SURAT DARI MASA LALU BAB 39: PERTARUNGAN DI MARKAS →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Markas Mawar Hitam tidak seperti yang Tianji bayangkan. Ia mengira akan menemukan benteng besar dengan tembok tinggi, penjaga di mana-mana, dan bendera hitam berkibar dengan angkuh. Tapi kenyataannya… markas itu tersembunyi di balik air terjun raksasa di tengah hutan belantara.

"Luar biasa," bisik Yue'er, matanya terbelalak. "Aku tidak akan pernah menemukan tempat ini jika tidak diberi petunjuk."

"Mereka sengaja menyembunyikannya," kata Xiao Yu'er. "Air terjun ini adalah tirai alami. Suara gemuruhnya menutupi suara apa pun dari dalam."

Tianji mengamati sekeliling. Tebing batu yang menjulang, ditutupi lumut hijau. Air jatuh dari ketinggian puluhan meter, menciptakan kabut tipis yang membuat segalanya tampak seperti negeri dongeng. Tapi Tianji tahu, di balik keindahan ini, ada bahaya yang mengintai.

"Guruku ada di sana," katanya, suaranya pasti.

"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Yue'er.

"Aku bisa merasakannya."

Mereka mencari jalan masuk. Setelah mengelilingi air terjun, mereka menemukan celah sempit di balik bebatuan. Cukup untuk satu orang melewatinya dengan merapatkan tubuh ke dinding.

"Aku masuk duluan," kata Tianji.

"Tidak," potong Yue'er. "Aku yang duluan. Jika ada jebakan, lebih baik aku yang kena."

"Aku yang lebih kuat dalam pertarungan."

"Dan aku yang lebih gesit dalam menghindari jebakan. Jadi, aku duluan."

Sebelum Tianji bisa membantah, Yue'er sudah melesat masuk ke dalam celah itu. Tianji menghela napas frustrasi, lalu mengikutinya. Xiao Yu'er di belakang.

Di dalam, udara terasa lembab dan dingin. Lorong batu yang gelap, hanya diterangi oleh lampu minyak yang ditempatkan di setiap sudut. Dindingnya dipenuhi ukiran mawar hitam — logo dari organisasi yang telah membunuh orang tuanya.

"Lorong ini panjang sekali," gumam Yue'er. "Apa mereka tidak punya pintu belakang?"

"Mungkin ini satu-satunya jalan," kata Tianji. "Hati-hati. Mungkin ada penjaga."

Mereka berjalan dengan hati-hati, setiap langkah dihitung, setiap suara diminimalkan. Setelah berjalan sekitar seratus langkah, mereka sampai di sebuah ruangan besar.

Ruangan itu luas, seperti aula pertemuan. Di tengahnya ada patung mawar hitam raksasa yang terbuat dari batu giok hitam. Di sekeliling ruangan, ada beberapa pintu yang tertutup.

"Ke mana sekarang?" tanya Xiao Yu'er.

Tianji memejamkan mata. Ia mencoba merasakan keberadaan gurunya. Di suatu tempat di dalam markas ini, ia bisa merasakan kehadiran Xuan Qingzi — samar, tapi pasti.

"Di sana," katanya, menunjuk pintu paling kiri.

"Kau yakin?"

"Yakin."

Mereka berjalan ke pintu itu. Tianji mendorongnya pelan. Terbuka. Di belakangnya, ada tangga yang menurun ke bawah.

"Ini seperti labirin," keluh Yue'er. "Aku benci tempat seperti ini. Kenapa mereka tidak bisa membuat markas yang sederhana? Dengan peta yang jelas? Dan mungkin rambu-rambu?"

"Kau terlalu banyak bicara," kata Tianji.

"Aku terlalu banyak bicara? Aku baru bicara tiga kalimat! Itu rekor terpendek dalam hidupku!"

"Berarti rekor itu sudah pecah. Sekarang diam."

Yue'er cemberut, tapi menurut. Mereka menuruni tangga dengan hati-hati. Di lantai bawah, ada koridor panjang dengan sel-sel di kedua sisi. Penjara.

"Guru mungkin di sini," bisik Tianji.

Mereka berjalan di koridor, memeriksa setiap sel. Kebanyakan kosong. Yang terisi hanya berisi tulang-belulang yang sudah lama mati. Tianji merasakan hawa dingin merayapi tulang punggungnya. Berapa banyak orang yang telah mati di sini?

"Tianji!" Yue'er tiba-tiba menarik lengannya. "Lihat!"

Tianji menengok. Di sel ujung koridor, ada seorang lelaki tua dengan jubah putih compang-camping, duduk bersandar di dinding. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya penuh luka. Tapi Tianji mengenalinya.

"Guru!" ia berlari ke arah sel itu.

Xuan Qingzi mendongak. Matanya yang sayu tiba-tiba membelalak.

"Tianji?!" suaranya parau, tidak percaya. "Apa yang kau lakukan di sini?!"

"Aku datang untuk menyelamatkan Guru," kata Tianji, tangannya meraih jeruji besi.

"Bodoh!" Xuan Qingzi memukul dinding sel dengan tinjunya. "Aku sudah bilang di surat! Jangan ikut! Apa kau tidak bisa mendengarkan?! Apa kau tidak bisa sekali saja menurut?! Dasar anak keras kepala!"

"Aku tidak bisa membiarkan Guru mati di sini," kata Tianji tegas.

"Aku lebih baik mati di sini daripada kau ikut mati bersamaku!" Xuan Qingzi berdeham, lalu batuk-batuk. Darah menetes dari bibirnya. "Cepat pergi! Sebelum mereka datang!"

"Guru terluka," kata Tianji, suaranya bergetar. "Aku tidak akan pergi sebelum Guru keluar dari sini."

"Aku bilang pergi!" Xuan Qingzi berteriak. Tapi kemudian suaranya melemah. "Anakku… kumohon… ini bukan jalanmu. Ayah dan ibumu tidak ingin kau… mengikuti jejak mereka."

"Aku tahu tentang ayah dan ibuku," kata Tianji pelan. "Aku sudah membaca surat Guru."

Xuan Qingzi terdiam. Matanya berkaca-kaca.

"Jadi kau sudah tahu," bisiknya. "Maafkan aku… karena tidak memberitahumu lebih awal."

"Tidak apa, Guru. Aku sudah memaafkan Guru." Tianji tersenyum tipis. "Tapi sekarang, biarkan aku membantu Guru keluar dari sini."

"Kau tidak bisa," kata Xuan Qingzi, menggeleng lemah. "Jeruji ini dari besi khusus. Terkunci dengan segel tenaga dalam. Hanya Lord Hitam yang bisa membukanya."

"Kalau begitu, kita cari kuncinya," kata Yue'er tiba-tiba. "Di mana Lord Hitam menyimpan kuncinya?"

Xuan Qingzi menatap Yue'er. "Siapa kau?"

"Aku Yue'er. Teman Tianji. Juga pengawalnya. Juga… ah, sudahlah, itu panjang ceritanya. Tapi pokoknya, aku di sini untuk membantu."

"Bocah ini cerewet sekali," komentar Xuan Qingzi.

"Heh! Sama seperti yang Tianji bilang!" Yue'er menghentakkan kaki. "Apa memang sudah takdirku untuk dicap cerewet? Aku hanya ramah! Itu bukan dosa!"

Xuan Qingzi tertawa. Tawa yang lemah, tapi tawa. "Sudah lama aku tidak tertawa. Terima kasih, Nona Cerewet."

"Kumohon, jangan panggil aku Nona Cerewet!"

"Baik, Nona Cerewet."

Yue'er mendengus frustrasi, membuat Xiao Yu'er tersenyum geli.

Tapi tawa mereka terhenti ketika suara langkah kaki terdengar. Banyak. Mendekat.

"Mereka datang," kata Xuan Qingzi, wajahnya pucat. "Cepat, sembunyi!"

Tapi sudah terlambat. Sekelompok pria berjubah hitam muncul dari ujung koridor, senjata terhunus. Mereka berjumlah dua belas orang, dengan pedang dan golok yang berkilau dalam cahaya lampu minyak.

"Nah, nah, nah," suara seorang pria terdengar dari belakang mereka. "Tamu tak diundang. Ini kejutan yang menyenangkan."

Seorang pria tinggi kurus melangkah maju. Wajahnya pucat, dengan mata yang tajam seperti elang. Rambutnya hitam panjang tergerai. Ia tersenyum — senyum yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Lord Hitam," desis Xuan Qingzi.

Tianji menegang. Ini dia. Pembunuh orang tuanya. Berdiri tepat di depannya, hanya beberapa langkah jauhnya. Tangannya bergerak ke gagang pedang.

"Tianji, jangan," bisik Yue'er cepat. "Terlalu banyak dari mereka."

"Tapi…"

"Aku tahu. Tapi kau tidak bisa melawan mereka semua sendirian."

Lord Hitam tertawa. "Jadi, kau pasti Tianji. Putra dari Xiao Zhan dan Lin Xue. Aku sudah lama ingin bertemu denganmu."

"Kau yang membunuh orang tuaku," kata Tianji, suaranya dingin mematikan.

"Betul," aku Lord Hitam tanpa ragu. "Tapi kau harus tahu, itu bukan urusan pribadi. Mereka adalah ancaman bagi organisasi. Dan aku hanya melindungi apa yang menjadi milikku."

"Ancaman? Mereka tidak mengganggumu!"

"Keberadaan mereka saja sudah cukup," kata Lord Hitam enteng. "Xiao Zhan adalah pendekar paling kuat di markas. Selama ia hidup, rencanaku untuk menguasai dunia persilatan tidak akan pernah berhasil. Jadi… aku harus menyingkirkannya."

"Dan ibuku?"

"Ibumu? Sayang sekali. Ia tidak seharusnya ada di sana malam itu. Tapi ia kebetulan bertemu dengan anak buahku saat menjalankan misi. Aku tidak punya pilihan selain…" Lord Hitam membuat gerakan memenggal. "Kau mengerti."

Tianji merasakan darah mendidih di tubuhnya. Ia ingin menyerang. Ia ingin membunuh Lord Hitam di tempat. Tapi Yue'er memegang lengannya erat-erat, menahannya.

"Dia mencoba memprovokasimu," bisik Yue'er. "Jangan jatuh ke dalam perangkapnya."

"Aku tahu," kata Tianji, suaranya bergetar menahan amarah. "Tapi sulit."

"Aku tahu itu sulit. Tapi kau harus kuat."

Lord Hitam menyeringai. "Kalau begitu, jangan biarkan aku mengganggu. Kau ingin menyelamatkan gurumu? Silakan. Tapi kau harus melewati aku dan anak buahku terlebih dahulu."

Ia memberi isyarat, dan dua belas pria berjubah hitam itu mulai mendekat, membentuk setengah lingkaran di sekitar Tianji dan teman-temannya.

"Xiao Yu'er," kata Tianji pelan. "Jaga Yue'er."

"Tidak!" Yue'er membantah. "Aku tidak butuh dijaga! Aku bisa bertarung!"

"Kau pengawalku, benar? Tapi kali ini, biarkan aku yang melindungimu."

"Tianji…"

"Ini bukan waktunya berdebat." Tianji menarik pedangnya. Suara logam bergesekan terdengar tajam di koridor yang sunyi. "Aku akan membuat jalan. Kalian ikuti aku."

Ia melompat maju, pedangnya menyambar ke arah musuh terdekat. Pria itu terkejut, tapi masih sempat memblokir serangan Tianji. Suara benturan logam memenuhi koridor.

"Ayo!" Yue'er menarik belatinya dan bergabung dalam pertarungan. Xiao Yu'er mengikutinya.

Pertarungan sengit terjadi di koridor sempit itu. Tianji bertarung dengan liar, ilmu pedang Penyerap Lautan yang ia kuasai dari Xuan Qingzi keluar dengan kecepatan luar biasa. Setiap tebasan, setiap tusukan, setiap gerakan adalah ekspresi dari amarah yang selama ini ia pendam.

Tapi musuh terlalu banyak. Untuk setiap satu yang jatuh, dua lainnya muncul. Dan coridor sempit itu tidak memberi mereka ruang untuk bergerak leluasa.

"Kita harus mundur!" teriak Yue'er, mengelak dari tebasan pedang yang nyaris mengenai kepalanya.

"Ke mana?!" balas Xiao Yu'er.

Koridor di belakang mereka juga sudah dipenuhi oleh anggota Mawar Hitam. Mereka terjebak.

"Nona Cerewet," suara Xuan Qingzi terdengar dari sel. "Kemarilah."

Yue'er berbalik, menghindari serangan, dan berlari ke sel Xuan Qingzi.

"Ada apa, Guru?"

"Ambil ini." Xuan Qingzi menyelipkan sesuatu melalui jeruji. Sebuah cincin giok hijau. "Ini pusaka keluarga Tianji. Ibunya menitipkannya padaku sebelum ia meninggal. Jika kalian berhasil keluar, berikan ini padanya."

"Kenapa kau tidak memberikannya sendiri?"

"Karena aku tidak akan keluar dari sini hidup-hidup," kata Xuan Qingzi, tersenyum getir. "Tapi kalian bisa. Kalian harus bisa."

"Guru…"

"Dengar, Nona Cerewet. Aku sudah tua. Masa depanku sudah lewat. Tapi Tianji… dia masih muda. Dia punya masa depan yang cerah. Jagalah dia. Janji?"

Yue'er menelan ludah. Air mata mengalir di pipinya, tapi ia mengangguk tegas.

"Aku janji."

"Bagus. Sekarang, bawa dia pergi dari sini."

"Tapi bagaimana caranya?" tanya Yue'er.

Xuan Qingzi tersenyum. Senyum yang misterius. Senyum seorang pendekar yang sudah siap menghadapi ajalnya.

"Aku akan memberimu jalan."

Dan tanpa peringatan, Xuan Qingzi mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Tubuhnya mulai bersinar, mengeluarkan cahaya putih yang terang benderang.

"Tidak! Guru!" teriak Tianji, menyadari apa yang akan dilakukan gurunya.

"Jangan menangis untukku, anakku," kata Xuan Qingzi, suaranya tenang. "Ini sudah takdirku. Aku gagal melindungi ayah dan ibumu. Aku tidak akan gagal melindungimu."

Ledakan tenaga dalam yang dahsyat menghantam markas Mawar Hitam. Dinding-dinding runtuh. Api meledak di mana-mana. Asap tebal memenuhi udara.

Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er terlempar ke belakang, keluar dari markas melalui lubang yang terbuka di dinding. Mereka jatuh ke sungai di bawah air terjun, terbawa arus yang deras.

Tianji berusaha berenang melawan arus, ingin kembali ke markas. Tapi Yue'er menahannya.

"Tianji! Tidak bisa! Terlalu berbahaya!"

"Guruku! Dia masih di sana!" teriak Tianji, suaranya penuh kepanikan.

"Sudah terlambat!" kata Yue'er, suaranya bergetar. "Dia sudah… dia sudah…"

"Dia sudah mengorbankan dirinya," Xiao Yu'er menyelesaikan kalimatnya, suaranya pelan.

Tianji berhenti melawan. Tubuhnya lemas. Arus sungai membawanya semakin jauh dari markas Mawar Hitam yang hancur. Dari jauh, ia masih bisa melihat asap hitam membumbung ke langit.

Gurunya sudah tiada.

Xuan Qingzi telah mengorbankan dirinya — meledakkan markas Mawar Hitam dengan tenaga dalamnya sendiri. Semua musuh di dalam ikut hancur. Tapi harga yang harus dibayar adalah nyawanya sendiri.

"Aku sudah tua. Masa depanku sudah lewat. Kaulah harapannya," bisik Tianji, mengulangi kata-kata gurunya.

Dan air matanya bercampur dengan air sungai yang dingin, tidak terbedakan lagi.

Di tangannya, cincin giok hijau dari ibunya tergenggam erat. Satu-satunya peninggalan dari orang tuanya. Satu-satunya yang tersisa dari gurunya.

Tianji kehilangan guru keduanya.

Dan di dalam hatinya, api dendam mulai menyala kembali — lebih besar, lebih panas, lebih tak terkendali dari sebelumnya.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 37: SURAT DARI MASA LALU BAB 39: PERTARUNGAN DI MARKAS →