Reruntuhan batu itu tampak lebih besar saat mereka mendekat. Dinding-dindingnya yang terbuat dari batu hitam telah dimakan usia, namun ukiran-ukiran aneh masih terlihat jelas โ gambar naga melingkar, ombak menggulung, dan simbol-simbol misterius yang tidak dikenal Tianji.
"Tempat ini pasti sudah berdiri ribuan tahun," bisik Yue'er, matanya membelalak takjub. "Lihatlah ukiran-ukiran ini. Mereka menggunakan batu yang bahkan tidak bisa dipotong oleh pedang biasa."
Xiao Yu'er mengusapkan jarinya ke salah satu ukiran. "Batu ini bukan batu biasa. Ini obsidian hitam, batu yang hanya ditemukan di kedalaman gunung berapi. Untuk membawa batu sebesar ini ke sini… diperlukan tenaga yang luar biasa."
"Atau teknik konstruksi yang sudah hilang," tambah Tianji.
Mereka memasuki reruntuhan melalui sebuah gapura besar yang sudah kehilangan daun pintunya. Di dalamnya, lorong gelap terbentang, diterangi oleh cahaya samar dari celah-celah dinding yang memungkinkan sinar matahari masuk.
"Awas ada tangga," Yue'er memperingatkan.
Tianji mengangguk. Ia sudah melihatnya โ tangga batu melingkar yang turun ke bawah tanah. Dari sanalah auman misterius tadi berasal.
"Kita turun," kata Tianji.
"Tunggu dulu," Yue'er meraih lengan Tianji. "Kudengar cerita tentang makam-makam kuno. Biasanya mereka dipenuhi perangkap. Apa kau punya rencana?"
"Rencanaku sederhana," jawab Tianji. "Hati-hati, waspada, dan jangan sentuh apa pun yang mencurigakan."
"Itu bukan rencana. Itu harapan."
"Kadang-kadang harapan sudah cukup."
Xiao Yu'er sudah berjalan lebih dulu menuruni tangga. Tianji dan Yue'er segera menyusul. Tangga itu berkelok-kelok turun sekitar tiga puluh anak tangga sebelum sampai di sebuah ruangan bawah tanah yang luas.
Ruangan itu berbentuk bundar, dengan diameter sekitar lima puluh langkah. Di tengahnya, sebuah altar batu menjulang, dan di atas altar itu… sesosok kerangka manusia duduk bersila. Kerangka itu memegang sebuah gulungan sutra kuning di tangannya.
"Fragmen ketiga," bisik Tianji, jantungnya berdegup kencang.
"Tunggu," Xiao Yu'er mengangkat tangannya. "Jangan terburu-buru. Ada sesuatu yang tidak beres."
Tianji merasakannya juga. Ruangan itu terlalu bersih โ tidak ada debu di lantai, tidak ada sarang laba-laba di sudut-sudut. Seperti baru saja dibersihkan. Padahal reruntuhan di atas sudah dipenuhi lumut dan kotoran.
"Ada yang datang ke sini sebelum kita," kata Tianji pelan.
"Mungkin," sahut Xiao Yu'er. "Atau mungkin tempat ini dijaga."
"Menjaga? Oleh apa?"
Sebagai jawaban, lantai di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar. Retakan-retakan muncul di lantai batu, dan dari dalam retakan itu, sesuatu mulai merangkak keluar. Kalajengking-kalajengking sebesar kepalan tangan, dengan sengat hitam berkilau, merayap keluar dari celah-celah lantai.
"Kalajengking!" Yue'er menjerit dan langsung melompat ke atas batu kecil terdekat. "Banyak sekali!"
Tianji mengerutkan kening. Ini bukan kalajengking biasa โ tubuh mereka mengeluarkan aura Qi gelap, seolah-olah dipenuhi racun yang sangat mematikan. "Ini kalajengking yang dikendalikan dengan tenaga dalam hitam. Ada seorang master ilmu hitam yang menempatkan mereka di sini."
"Lord Hitam?" desis Xiao Yu'er.
"Mungkin. Atau mungkin penjaga asli makam ini."
Kalajengking-kalajengking itu mulai merangkak mendekat, membentuk formasi melingkar yang rapi. Mereka tidak menyerang secara membabi buta, melainkan bergerak dengan koordinasi yang sempurna โ seperti pasukan yang terlatih.
"Hei, mereka pintar juga," Yue'er berkomentar, suaranya bergetar meskipun ia berusaha terdengar tenang.
"Xiao Yu'er, lindungi Yue'er," perintah Tianji. "Aku yang akan menghadapi mereka."
"Kau yakin?" tanya Xiao Yu'er.
"Tenaga dalamku level 2. Kalajengking ini hanya menggunakan racun dan kekuatan fisik. Selama aku melindungi titik-titik vitalku dengan Qi, mereka tidak bisa melukai aku."
Tianji melangkah maju, kedua tangannya bersiap. Ia menghembuskan napas panjang, merasakan Qi di dalam tubuhnya mengalir seperti air laut yang pasang. Keterampilan Penyatuan Laut level 2 memberinya kendali yang jauh lebih besar atas aliran tenaga dalamnya.
Kalajengking pertama menyerang, melompat dengan kecepatan mengagetkan. Tianji tidak bergerak โ ia hanya mengulurkan telapak tangannya ke depan. Sebuah gelombang Qi tak terlihat menyambar, menghantam kalajengking itu dan membuatnya terpental ke dinding.
"Bagus!" Yue'er berteriak gembira.
Tapi itu baru permulaan. Puluhan kalajengking menyerang serentak dari segala arah. Tianji bergerak, telapak tangannya menebas ke kiri dan ke kanan, lututnya terangkat untuk menendang, sikunya menyikut ke belakang. Setiap gerakan mengandung Qi yang cukup untuk membuat kalajengking terpental atau hancur.
Namun jumlah mereka terlalu banyak. Untuk setiap kalajengking yang ia hempas, dua lagi muncul dari retakan lantai.
"Tianji-gege, di belakangmu!" Yueier berteriak.
Tianji berputar, telapak tangannya menyambar, tapi satu kalajengking berhasil lolos dan melompat ke arah lehernya. Sebelum sengatnya mencapai sasaran, sebuah kilatan pedang menyambar โ Xiao Yu'er telah bergerak dengan kecepatan yang bahkan Tianji sendiri hampir tidak bisa mengikutinya.
"Jangan lengah," kata Xiao Yu'er datar, lalu kembali ke posisinya di samping Yue'er.
Tianji mengangguk. Keringat mulai membasahi keningnya. Kalajengking terus berdatangan tanpa henti. Jika begini terus, tenaga dalamnya akan habis sebelum kalajengking itu habis.
"Yue'er," panggil Tianji. "Lihat sekeliling! Pasti ada mekanisme untuk menghentikan kalajengking ini!"
Yue'er mengangguk dan mulai mengamati dinding-dinding ruangan. Matanya yang awas dengan cepat menemukan sesuatu โ sebuah panel batu dengan ukiran yang berbeda dari yang lain.
"Di sana!" Yue'er menunjuk. "Di dinding sebelah utara!"
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Tianji sambil terus memukul mundur kalajengking.
"Ukiran di panel itu… sepertinya bisa diputar! Ada simbol naga dan ombak. Mungkin kita harus memutar ke posisi yang tepat!"
"Coba kau lakukan! Xiao Yu'er, lindungi dia!"
Xiao Yu'er mengangguk dan segera bergerak ke arah dinding utara bersama Yue'er. Kalajengking yang mencoba menghalangi mereka dipotong oleh pedang Xiao Yu'er dengan presisi yang menakutkan.
Yue'er meraih panel batu itu. Ukirannya terasa dingin saat disentuh. Ia mencoba memutarnya ke kiri โ tidak ada reaksi. Ke kanan โ masih tidak ada. Mulai dari atas โ sama sekali tidak bergerak.
"Bagaimana cara kerjanya?" Yueer menggigit bibirnya. "Tianji-gege, ada petunjuk?"
Tianji sibuk bertarung, tapi ia sempat melirik ke arah altar di tengah ruangan. Kerangka itu masih duduk bersila, memegang gulungan sutra. Di dasar altar, ada ukiran yang sama โ naga melingkar dan ombak menggulung.
"Coba cocokkan dengan posisi di altar!" teriak Tianji. "Mungkin itu kuncinya!"
Yue'er berlari ke altar, menghindari beberapa kalajengking yang nyaris menyengat kakinya. Ia mengamati ukiran di dasar altar dengan saksama. Di sana terukir sebuah diagram โ naga melingkar di atas ombak, dengan posisi kepala naga mengarah ke barat laut.
"Kepala naga menghadap barat laut!" Yue'er berlari kembali ke panel dinding. Dengan tangan gemetar, ia memutar ukiran naga di panel itu hingga kepalanya menghadap barat laut.
Klik.
Suara mekanis kuno bergema di seluruh ruangan. Retakan-retakan di lantai tiba-tiba menutup, menjepit kalajengking-kalajengking yang masih setengah keluar. Yang sudah di permukaan mulai bergetar, lalu hancur menjadi debu.
"Mati… mereka semua mati?" Yue'er terengah-engah.
"Bukan mati," kata Tianji, mengatur napasnya. "Mereka dikendalikan oleh formasi. Saat formasinya diputuskan, mereka kembali ke bentuk asalnya โ tanah liat dan Qi hitam."
"Tanah liat?" Yue'er menendang salah satu kalajengking yang sudah menjadi debu. "Kau benar. Ini hanya patung tanah liat."
Xiao Yu'er sudah berjalan ke arah altar. "Fragmen ini milik kita."
Tianji mengikutinya, hatinya berdebar. Setelah semua perjuangan โ Pulau Terbang, badai, kehilangan Li Qingfeng โ akhirnya ia sampai di sini. Fragmen ketiga.
Ia berlutut di depan altar, memberi hormat pada kerangka yang duduk di atasnya. "Maaf mengganggu peristirahatanmu, pendahulu. Aku hanya meminjam ilmu ini untuk menyelamatkan guruku."
Dengan tangan bergetar, Tianji meraih gulungan sutra kuning itu. Saat jari-jarinya menyentuh sutra itu, ia merasakan ledakan energi yang luar biasa. Gelombang pengetahuan mengalir masuk ke dalam pikirannya โ teknik-teknik kuno, filosofi Lautan Pengetahuan, rahasia alam semesta yang tersembunyi.
Tapi sesuatu yang lain juga mengalir โ ingatan. Ingatan pemilik kerangka ini.
Seorang pendekar dari seribu tahun lalu, yang mengabdikan hidupnya untuk melindungi ilmu Lautan Pengetahuan dari tangan-tangan jahat. Ia membangun makam ini, mengubur fragmen ketiga bersama dirinya, dan meninggalkan perangkap untuk melindunginya.
"Terima kasih," bisik Tianji setelah gelombang itu mereda. "Aku berjanji akan menggunakan ilmu ini untuk kebaikan."
"Tianji-gege," panggil Yue'er tiba-tiba. "Kita harus segera pergi. Tempat ini tidak aman."
"Ia benar," kata Xiao Yu'er. "Lord Hitam pasti sudah tahu kita berhasil. Kita harus pergi sebelumโ"
Tepuk tangan bergema di lorong masuk. Lambat, mengejek, penuh dengan kebanggaan.
"Bagus, bagus, bagus," suara berat dan dalam bergema di seluruh ruangan. "Kalian benar-benar anak-anak berbakat. Aku tidak menyangka kalian bisa sampai sejauh ini."
Tianji berbalik, jantungnya berhenti sejenak. Di pintu masuk lorong, berdiri sesosok bayangan hitam โ jubah hitam panjang menutupi seluruh tubuhnya, wajahnya tidak terlihat karena tersembunyi di balik topeng hitam. Dari tubuhnya, aura Qi hitam pekat mengalir seperti kabut beracun.
"Lord Hitam."
"Kau benar, Tianji anak muda," kata Lord Hitam, suaranya terdengar seperti batu bergesekan. "Sudah lama aku menunggu saat ini. Kau telah mengumpulkan fragmen untukku โ pertama dari Pulau Terbang, kedua dari Li Qingfeng yang malang itu, dan sekarang yang ketiga. Aku berterima kasih padamu."
"Fragmen ini tidak akan jatuh ke tanganmu," Tianji mengepalkan tangannya. "Aku akan melindunginya dengan nyawaku."
"Nyawamu? Hahahaha!" Lord Hitam tertawa, suaranya menggema mengerikan di ruangan bawah tanah itu. "Kau pikir kau bisa melawanku? Dengan tenaga dalam level 2 yang masih mentah? Dengan seorang pengkhianat dan seorang gadis cengeng sebagai teman?"
"Apa kau bilang tentang aku?" Yue'er maju selangkah, matanya menyala. "Aku bukan gadis cengeng!"
"Yue'er, mundur," Tianji menarik lengan Yue'er. "Dia terlalu kuat untukmu."
"Tianji-gege…"
"Dengar," bisik Tianji. "Jika terjadi sesuatu, kau harus lari. Bawa fragmen ini dan pergi. Aku yang akan menahannya."
"Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Yue'er." Tianji menatap matanya. Kali ini, matanya penuh dengan ketegasan yang tidak bisa dibantah. "Kau harus hidup. Kau harus meneruskan perjuanganku jika aku jatuh. Janji?"
Yue'er menelan ludah, matanya berkaca-kaca. Tapi ia mengangguk. "Janji."
Lord Hitam melangkah maju, dan tiba-tiba ruangan itu menjadi lebih dingin. "Bicara soal janji โ aku berjanji akan membuat kematian kalian cepat dan tidak menyakitkan. Sebagai hadiah atas jasamu mengumpulkan fragmen."
Dan pertarungan yang menentukan akan segera dimulai.
โ BERSAMBUNG โ