📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 18: RAHASIA YUE’ER

← BAB 17: PULAU MISTERIUS BAB 19: KEJARAN DI LAUT →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Gua Xuan Qingzi ternyata lebih dalam dari perkiraan Tianji. Lorong-lorong berkelok seperti usus binatang raksasa, dan udara di dalamnya lembap dan berat. Cahaya yang mereka lihat dari mulut gua — ternyata berasal dari sejenis lumut bercahaya yang menempel di dinding-dinding gua. Cahayanya pucat kebiruan, menerangi gua dengan nuansa dunia lain.

"Aneh sekali tempat ini," bisik Yue'er. Suaranya menggema di ruang sempit. "Seperti dunia mimpi."

"Awas," Xiao Yu'er mengingatkan. "Beberapa lumut mungkin beracun."

"Berbahaya atau tidak, yang penting kita terus berjalan." Tianji melangkah maju dengan hati-hati, Qi hitam di tangannya siap menyala jika ada bahaya.

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, gua tiba-tiba melebar. Mereka tiba di sebuah ruangan besar — seperti aula bawah tanah yang diukir oleh alam sendiri. Di tengah aula, sebuah altar batu berdiri, dan di atas altar itu — sebuah kotak giok yang bersinar dengan cahaya kehijauan.

"Peta," Tianji bergumam.

Ia mendekati altar, tapi Yue'er menarik tangannya. "Tunggu! Jangan asal sentuh. Mungkin ada jebakan."

"Aku juga bisa merasakan Qi di sekitarnya," kata Xiao Yu'er, matanya menyipit. "Formasi kecil. Tapi bukan jebakan mematikan — lebih ke peringatan."

Tianji menutup matanya, merasakan aliran Qi di sekitar altar. Benar — ada formasi Qi yang melingkar di sekelilingnya. Tapi bukan untuk membunuh. Seperti yang dikatakan Xiao Yu'er, itu lebih seperti… alarm. Atau tulisan.

Ia membuka matanya dan tersenyum. "Formasi ini ditulis dengan aksara kuno. Bunyinya: 'Hanya muridku yang bisa membaca ini.'"

"Apa maksudnya?" Yue'er mengerutkan kening.

Alih-alih menjawab, Tianji mengulurkan tangannya, dan Qi hitam di telapak tangannya menjulur seperti tentakel halus. Ia menyentuh formasi itu — dan formasi itu… larut. Menari-nari di udara seperti tinta di air, lalu membentuk serangkaian huruf:

"Anakku. Jika kau baca ini, berarti kau sudah sampai di persimpangan jalan.

MP yang kuwariskan padamu bukan sekadar ilmu. Ia adalah kutukan dan berkah. Jika kau ingin mengendalikannya sepenuhnya, kau harus menggabungkan tiga fragmen Kitab Suci Lautan.

Fragmen pertama ada dalam tubuhmu — kuberikan saat aku pergi. Fragmen kedua kau bawa — dari tangan Lady Hong. Fragmen ketiga — jiwa dari kitab suci — ada di Pulau Terbang.

Tapi hati-hati. Di Pulau Terbang, kau akan menghadapi ujian terberat. Bukan ujian fisik, melainkan ujian hati.

Xuan Qingzi."

Tianji membacanya dalam hati, tidak mengeluarkan suara. Air matanya menggenang, tapi tidak jatuh. Gurunya — masih peduli. Masih meninggalkan jejak.

"Apa yang tertulis?" tanya Yue'er penasaran.

"Petunjuk. Dan peringatan."

Tianji meraih kotak giok di atas altar. Ia membukanya. Di dalamnya, bukan hanya peta — tapi juga sebuah buku kecil bersampul kulit, dan sebuah jimat giok berbentuk naga melingkar.

"Apa itu?" Yue'er menjulurkan leher.

Tianji mengambil peta terlebih dahulu. Peta itu terbuat dari kain sutra yang sangat halus, digambar dengan tinta emas. Pulau Terbang digambarkan di tengah, dikelilingi oleh lingkaran-lingkaran yang melambangkan formasi Qi. Jalur masuk yang aman ditandai dengan garis putus-putus.

"Ini peta yang kita butuhkan," kata Tianji. "Untuk menuju Pulau Terbang."

"Syukurlah." Yue'er menghela nafas lega. "Berarti kita tidak perlu terus-terusan tersesat."

Tianji mengambil buku kecil itu — sebuah buku harian. Ditulis tangan oleh Xuan Qingzi sendiri. Ia membuka halaman pertama, dan membaca beberapa baris:

"Hari ini aku memulai perjalanan mencari makna di balik MP. Semakin dalam aku menyelami, semakin aku sadar — bahwa kekuatan sejati bukanlah menyerap, tapi melepaskan."

Itu saja yang sempat ia baca. Yue'er menarik tangannya.

"Hei, jangan baca semua di sini. Nanti saja. Malam sudah mulai gelap di luar."

"Malam?" Xiao Yu'er heran. "Kita baru masuk beberapa jam."

"Di dalam gua terasa beberapa jam. Tapi di luar mungkin sudah sore," kata Tianji. "Ayo kita keluar. Ada banyak yang harus kita bicarakan dengan Kakek Nelayan."

Mereka keluar dari gua. Sore hari sudah menjelang, matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Kakek Nelayan sedang duduk di pantai, memandangi laut dengan pancingnya yang tanpa tali.

"Sudah dapat?" tanyanya tanpa menoleh.

"Sudah," jawab Tianji. "Peta, buku, dan jimat."

"Jimat?" Kakek Nelayan menoleh dengan tatapan terkejut. "Coba lihat."

Tianji mengeluarkan jimat giok berbentuk naga melingkar. Begitu Kakek Nelayan melihatnya, ia terkesiap.

"Itu… Jimat Pangeran Ning!"

Yue'er yang sedari tadi diam, tiba-tiba tersentak. Wajahnya berubah pucat.

"Jimat Pangeran Ning?" Tianji mengulangi. "Apa itu?"

"Simbol dari keluarga Ning," kata Kakek Nelayan, suaranya tiba-tiba menjadi serius. "Keluarga bangsawan paling berpengaruh di istana selatan. Pangeran Ning adalah tokoh yang sangat misterius — konon ia memiliki hubungan dengan dunia persilatan. Tapi jimat ini… ini adalah pusaka yang sangat berharga. Kenapa Xuan Qingzi menyimpannya di sini?"

"Aku tidak tahu," Tianji menjawab jujur. Ia melihat ke arah Yue'er yang diam saja, tidak seperti biasanya. "Yue'er? Kau kenal jimat ini?"

Yue'er terkejut. "Aku? Tidak… tidak tahu… hanya saja… aku pernah…" Ia menggeleng. "Tidak. Tidak apa-apa."

Tianji mengerutkan kening. Yue'er berbohong. Ia kenal Yue'er enam tahun — cukup lama untuk tahu kapan gadis itu tidak jujur. Tapi ia tidak mendesak. Mungkin Yue'er punya alasan sendiri.

Malam turun dengan cepat. Kakek Nelayan menyalakan api unggun di pantai, dan mereka duduk melingkar. Suara ombak dan kayu yang berderak menjadi latar yang anehnya damai.

"Kakek," Tianji memulai, "bagaimana cara kami meninggalkan pulau ini?"

"Aku sudah menyiapkan perahu untuk kalian."

"Perahu? Kakek bilang tadi perahumu lapuk."

"Bukan perahuku. Perahu yang kukumpulkan dari sisa-sisa perahu kalian." Kakek Nelayan tersenyum puas. "Sore tadi, saat kalian di gua, aku mengumpulkan kayu-kayu pecahan perahu kalian yang tersebar di pantai. Lumayan, masih bisa dirakit jadi rakit. Tidak besar, tapi cukup untuk tiga orang."

"Terima kasih, Kakek."

"Jangan berterima kasih dulu. Rakit itu tidak akan tahan lama. Mungkin hanya cukup untuk dua hari. Kalian harus cepat sampai di Pulau Terbang."

"Sesuai peta, Pulau Terbang hanya setengah hari dari sini," kata Tianji. "Kalau berangkat pagi-pagi, kita akan sampai sebelum sore."

"Bagus. Maka kalian harus istirahat malam ini. Besok pagi, sebelum matahari terbit, kalian berangkat."

Api unggun berderak. Kunang-kunang beterbangan di sekitar mereka, menciptakan pemandangan yang hampir magis. Xiao Yu'er sudah tertidur, kelelahan oleh peristiwa hari itu. Kakek Nelayan duduk memejamkan mata, seperti sedang bermeditasi atau berdoa.

Tianji bangkit dan berjalan ke pinggir pantai. Ia duduk di pasir, memandangi bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit malam. Pikirannya dipenuhi oleh kata-kata Xuan Qingzi — tentang ujian hati. Apa yang dimaksud gurunya?

"Hei."

Yue'er duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam, menikmati suara ombak.

"Tianji," Yue'er memulai, suaranya berbeda. Tidak ceria seperti biasanya. Lebih pelan. Lebih hati-hati. "Ada yang mau kukatakan padamu."

"Apa?"

Yue'er mengambil napas panjang. "Jimat itu… Jimat Pangeran Ning… aku kenal."

"Aku tahu kau berbohong tadi."

"Kau tahu?" Yue'er tertawa kecil, tapi tawanya pahit. "Dasar Tianji. Memang tidak ada yang bisa kusembunyikan darimu, ya."

"Kau tidak perlu menyembunyikan apa pun. Tapi kalau kau mau bicara, aku siap mendengar."

Yue'er memandang Tianji dengan tatapan campuran antara syukur dan takut. Lalu ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Tianji sebentar.

"Aku… aku bukan gadis desa biasa, Tianji."

"Aku tahu."

"Kau tahu?!"

"Gadis biasa tidak akan punya jimat dari keluarga Ning. Gadis biasa tidak akan bisa membaca peta kuno. Gadis biasa juga tidak akan tahu soal dunia persilatan seperti kau."

Yue'er terdiam. Air matanya mulai mengalir. "Kalau kau sudah tahu… kenapa kau tidak pernah bertanya?"

"Karena kau akan bercerita saat kau siap."

"Tianji…" Yue'er menundukkan kepala. "Selama tahun-tahun ini… aku selalu takut. Takut kalau kau tahu siapa sebenarnya aku, kau akan pergi. Atau benci padaku."

"Aku tidak akan pergi."

Yue'er tersenyum, tapi air matanya terus mengalir. "Aku… aku adalah anak Pangeran Ning."

Tianji tidak terkejut. Sudah lama ia menduga. Tapi mendengarnya langsung… tetap saja ada rasa yang aneh.

"Aku lahir di istana Pangeran Ning, di wilayah selatan. Ibuku… selir kesayangan ayahku. Tapi ibuku dibunuh saat aku berusia sembilan tahun. Dibunuh oleh istri utama Pangeran Ning yang cemburu."

"Setelah ibuku mati, aku tidak aman lagi di istana. Orang-orang istana — mereka semua ingin aku mati. Karena aku punya hak waris yang… merepotkan." Yue'er tertawa getir. "Ayahku — Pangeran Ning — diam-diam membawaku keluar dari istana. Ia menitipkanku pada seorang nelayan tua di desa pesisir. Itulah kakek yang aku ceritakan padamu."

"Dan jimat itu?"

"Ayahku memberikannya padaku saat perpisahan. Katanya, 'Jika kau dalam bahaya, tunjukkan jimat ini. Orang-orang di dunia persilatan akan mengenalnya.'"

"Aku tidak pernah menggunakannya," lanjut Yue'er. "Karena aku tidak ingin kembali ke istana. Aku tidak ingin menjadi putri. Aku hanya ingin… menjadi Yue'er biasa. Yang bisa tertawa, bicara keras, dan berkelahi denganmu kalau kau buat aku marah."

Tianji merasakan ada kehangatan di dadanya. "Kau sudah menjadi Yue'er yang itu. Dan kau akan tetap menjadi itu."

"Tapi kalau kita menemukan fragmen ketiga… dan kalau kita kembali ke daratan… mungkin Mawar Hitam akan mengejar kita lagi. Dan mungkin — mungkin aku harus kembali ke istana. Untuk melindungi diriku dan kalian."

"Kau tidak harus kembali ke istana."

"Aku harus, Tianji. Pangeran Ning sudah tua. Kalau dia mati, saudara-saudaraku akan memperebutkan takhta. Dan aku — aku adalah ancaman bagi mereka. Mereka akan mencariku. Lebih baik aku kembali dan menghadapi mereka, daripada mereka mencariku dan membahayakanmu."

"Tidak." Suara Tianji tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu."

Yue'er menatap Tianji. Di bawah sinar bintang, wajah Tianji yang biasanya datar kini menunjukkan emosi yang jarang ia perlihatkan. Ada kemarahan, ada kekhawatiran, dan ada… sesuatu yang lain.

"Kenapa?" bisik Yue'er. "Kenapa kau peduli padaku?"

Tianji tidak menjawab. Ia hanya memandang laut, memandang bintang-bintang, memandang segala sesuatu kecuali Yue'er.

"Tianji…"

"Kau sudah bersamaku selama enam tahun," katanya akhirnya, suaranya rendah. "Kau satu-satunya yang tetap tinggal saat semua orang pergi. Guruku pergi. Desaku hancur. Tapi kau… kau tetap di sisiku."

"Karena aku keras kepala."

"Karena kau adalah Yue'er."

Mereka terdiam. Angin malam berhembus, membawa bau garam dan rumput laut. Di kejauhan, seekor burung malam memanggil.

"Terima kasih," bisik Yue'er akhirnya. "Karena tidak menghakimiku."

"Tidak ada yang perlu dihakimi."

"Aku takut, Tianji. Takut kalau suatu hari nanti, aku harus memilih antara dirimu dan keluargaku."

"Kau tidak perlu memilih. Kita akan menemukan jalan."

Yue'er tertawa pelan. "Kau selalu percaya pada hal-hal yang tidak pasti."

"Karena yang pasti adalah kau di sini, di sampingku. Itu sudah cukup."

Yue'er merapatkan tubuhnya ke Tianji. Di bawah langit berbintang, di pantai pulau tak bernama, mereka duduk bersama, tenggelam dalam keheningan yang lebih bermakna daripada seribu kata.

Di balik api unggun, Kakek Nelayan membuka matanya. Ia melihat dua anak muda di pinggir pantai dan tersenyum — senyum pahit seorang lelaki tua yang ingat pada masa mudanya.

Malam berlalu. Bintang-bintang bergeser di langit. Api unggun semakin redup.

Dan saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, Xiao Yu'er yang terjaga paling awal melihat sesuatu di cakrawala.

"Tianji! Yue'er! Bangun!" teriaknya.

Tianji dan Yue'er terkejut. Mereka bergegas ke pinggir pantai, tempat Xiao Yu'er berdiri dengan wajah pucat.

"Lihat!" Xiao Yu'er menunjuk.

Di kejauhan, dari arah barat, sebuah kapal hitam melaju cepat. Layarnya berwarna hitam pekat — warna khas Mawar Hitam.

"Mawar Hitam," gumam Tianji. "Mereka menemukan kita."

"Bagaimana mungkin?" Yue'er gemetar. "Kita sudah berkabut karena badai, tersesat di pulau tak bernama… bagaimana mereka tahu kita di sini?"

"Mungkin mereka sudah menunggu," kata Kakek Nelayan yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. "Mungkin juga mereka sudah tahu tujuanmu sejak awal."

Tianji merasakan hawa dingin di punggungnya. Apakah mungkin Lady Hong mengkhianati mereka? Atau… ada pengkhianat di antara mereka?

Ia menatap Yue'er. Lalu Xiao Yu'er. Tidak mungkin. Tidak sekarang.

"Kita harus pergi sekarang!" Tianji mengambil rakit yang sudah disiapkan Kakek Nelayan. "Sebelum mereka mencapai pantai!"

Mereka bertiga berlari ke rakit. Kakek Nelayan ikut mendorong rakit ke laut. "Kalian punya waktu sepuluh menit. Setelah itu, mereka akan mendarat."

"Kakek, jangan ikut—"

"Aku sudah tua. Aku tidak akan lari lagi." Kakek Nelayan tersenyum. "Biarkan aku menghadapi mereka. Setidaknya, untuk sekali ini, aku menjadi pendekar lagi."

Tianji hendak membantah, tapi Kakek Nelayan sudah mendorong rakit jauh ke laut. "Jangan buang waktu! Pergi!"

Yue'er menangis. "Kakek!"

"Diam, gadis! Kau menangis, nanti wajahmu jelek." Kakek Nelayan tertawa. "Sekarang pergi. Cari Pulau Terbang. Cari fragmen itu. Dan jadilah lebih kuat dari Xuan Qingzi!"

Tianji membungkuk hormat satu kali. Lalu ia mengambil dayung dan mulai mendayung sekuat tenaga. Yue'er dan Xiao Yu'er mengikuti.

Dari kejauhan, kapal hitam semakin mendekat. Orang-orang Mawar Hitam sudah berdiri di geladak, busur dan panah di tangan.

"Tembak!" teriak seseorang dari kapal.

Anak panah berhamburan. Tapi Kakek Nelayan — dengan kecepatan yang mengejutkan untuk seusianya — melompat dan mengayunkan pancingnya. Pancing bambu tanpa tali itu berputar seperti kipas, menangkis setiap anak panah.

"Penakluk Ombak masih hidup!" teriak seseorang dari kapal.

"Dan akan selalu hidup!" jawab Kakek Nelayan, lalu ia berlari di atas air — benar-benar berlari di atas permukaan laut — menuju kapal hitam itu.

Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er melihat pemandangan itu dengan mulut ternganga. Seorang kakek tua, compang-camping, berlari di atas ombak, pancing bambu di tangan, menantang kapal Mawar Hitam sendirian.

"Itu…" bisik Yue'er.

"Itulah Penakluk Ombak," kata Tianji. "Legenda yang tidak pernah mati."

Mereka terus mendayung, menjauh dari pulau, menjauh dari pertempuran. Kapal hitam mulai menjauh di kejauhan, dan rakit kecil mereka terus melaju, meninggalkan pulau tak bernama yang telah memberi mereka petunjuk dan seorang kakek yang rela menjadi perisai.

Biarlah masa lalu tetap di masa lalu.

Pulau Terbang menanti di depan.

[— BERSAMBUNG —]

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 17: PULAU MISTERIUS BAB 19: KEJARAN DI LAUT →