Matahari belum sepenuhnya bangkit dari peraduannya ketika tiga bayangan meninggalkan Kota Lintas Angin melalui gerbang timur. Kabut tipis masih menyelimuti jalan setapak yang menurun ke arah pantai, dan suara debur ombak terdengar samar-samar dari kejauhan, seperti nafas seekor binatang purba yang sedang tidur.
Xiao Tianji berjalan paling depan. Tas kecil berisi fragmen Kitab Suci Lautan terselip aman di balik jubahnya yang lusuh. Langkahnya mantap walau matanya sembab — semalaman ia tidak bisa tidur, memikirkan kata-kata terakhir Rahang Maut.
"Hati-hati orang terdekatmu."
Kalimat itu terus bergema di kepalanya, berputar-putar seperti pisau lempar yang tidak pernah mendarat. Orang terdekat? Maksudnya siapa? Yue'er? Xiao Yu'er? Atau… Lady Hong?
"Hei, Tianji! Jalannya jangan terlalu cepat dong!" Yue'er berteriak dari belakang, napasnya tersengal-sengal. "Kakiku lebih pendek dari kakimu! Kau pikir aku ini kuda atau apa?"
Tianji berhenti dan menoleh. Yue'er berdiri di lereng bukit kecil, tangan di pinggang, pipi memerah karena kelelahan. Di belakangnya, Xiao Yu'er berjalan dengan kepala tertunduk, sesekali menyeka keringat di dahinya.
"Maaf," kata Tianji pendek.
"Maaf, maaf, maaf! Kata-kata itu yang bisa kau ucapkan sejak kemarin!" Yue'er mendekat dan menepuk bahu Tianji keras-keras. "Hei, jangan terlalu dipikirkan omongan Rahang Maut. Orang itu mau mati, jadi dia bicara ngawur. Kau malah seriusin."
"Kau bisa baca pikiranku?"
"Sudah kukenal kau enam tahun, Tianji. Saat kau diam melamun seperti itu, pasti ada yang mengganggu pikiranmu." Yue'er menghela napas dan menuntun Tianji melanjutkan langkah. "Dengar, apa pun yang dimaksud Rahang Maut, itu sudah masa lalu. Sekarang kita harus fokus ke Pulau Terbang. Kalau Lady Hong bilang fragmen kedua ada di sana, ya kita ambil. Gampang."
"Gampang?" Xiao Yu'er angkat bicara untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat. Suaranya pelan. "Dari Kota Lintas Angin ke Pulau Terbang… konon harus melewati Lautan Karang Hitam. Banyak kapal hilang di sana."
Yue'er menatap Xiao Yu'er dengan alis terangkat. "Wah, kau tahu juga soal itu? Kirain kau tahu cuma soal racun dan keris."
Xiao Yu'er tersipu. Wajahnya yang pucat memerah sedikit. "Aku… aku banyak membaca di perpustakaan Laba-Laba Sutra. Lady Hong punya koleksi peta kuno."
"Heh, bagus juga kau ternyata." Yue'er tersenyum lebar. "Berarti kau tidak cuma beban di perjalanan ini."
"Aku… aku bisa membantu," kata Xiao Yu'er cepat. Tangannya meraba kantong kecil di pinggangnya. "Aku masih punya beberapa racun yang kubuat. Mungkin berguna."
"Racun lagi? Dasar tukang racun." Yue'er tertawa, tapi nadanya tidak mengejek. Malah ada kehangatan di situ.
Tianji memperhatikan interaksi mereka diam-diam. Sejak mereka meninggalkan Kota Lintas Angin, Yue'er memang sudah agak berbeda perlakuannya pada Xiao Yu'er. Masih suka menggoda, tapi tanpa kebencian. Mungkin karena di lorong bawah tanah kemarin, Xiao Yu'er tidak lari saat bahaya datang. Mungkin juga karena Xiao Yu'er sudah membuktikan dirinya bukan pengkhianat — hanya boneka Mawar Hitam.
Mereka tiba di pantai saat matahari mulai naik di ufuk timur. Hamparan pasir putih membentang sejauh mata memandang, dan ombak biru kehijauan bergulung-gulung dengan tenang. Di ujung dermaga kayu yang hampir rubuh, sebuah perahu kecil terikat pada tiang — perahu yang disediakan Lady Hong seperti yang dijanjikan.
"Wah, ini perahunya?" Yue'er mengerutkan kening. "Cuma sekecil ini? Aku pikir Lady Hong akan memberi kita kapal besar dengan kabin mewah!"
"Untuk tiga orang, perahu ini cukup," kata Tianji.
"Cukup? CUKUP? Kau bilang cukup?" Yue'er melompat naik ke perahu dan perahu itu bergoyang keras. "Lihat! Goyang! Kalau ada badai, kita tinggal menulis surat wasiat!"
"Tidak akan ada badai," kata Tianji. "Musim ini laut sedang tenang."
"Kau peramal cuaca sekarang? Sejak kapan?" Yue'er menggerutu sambil memeriksa perahu dari ujung ke ujung. "Tali jangkar… dayung cadangan… layar… Oh! Ada peti kecil!"
Yue'er membuka peti yang terletak di sudut perahu. Isinya: bekal makanan kering, air minum dalam guci-guci kecil, peta laut yang digulung rapi, dan sebuah kompas tosa yang terbuat dari perunggu.
"Setidaknya Lady Hong tidak pelit soal bekal," ujar Yue'er puas. "Ada dendeng, kue kering, dan… apa ini? Anggur beras? Hehe, Lumayan juga."
Mereka bertiga naik ke perahu. Tianji mengambil posisi di buritan, menguasai kemudi. Xiao Yu'er duduk di tengah, masih diam tapi matanya awas mengamati sekeliling. Yue'er duduk di haluan, memasang layar dengan gerakan yang ternyata cukup cekatan.
"Aku sudah sering bantu kakekku melaut," jelas Yue'er saat melihat Tianji menatapnya heran. "Dulu, sebelum aku ke desamu. Hidupku bukan cuma ngobrol saja, kau tahu."
"Aku tidak pernah bilang begitu."
"Tapi kau memikirkannya. Aku bisa lihat dari matamu." Yue'er mencibir. "Sudah enam tahun kita bersama, Tianji. Matamu yang 'aku-tidak-bilang-apa-apa' itu sudah tidak asing lagi bagiku."
Tianji tersenyum kecil — senyum yang sangat jarang muncul di wajahnya. "Kau benar. Aku memang memikirkannya."
"Ha! Akhirnya kau mengaku!" Yue'er tertawa puas. "Ini pertama kalinya kau mengaku aku benar dalam soal apa pun."
"Bukan pertama. Kedua."
"Oh? Yang pertama kapan?"
"Waktu kau bilang guruku, Xuan Qingzi, tidak akan kembali."
Yue'er terdiam. Suasana di perahu tiba-tiba berubah. Bahkan Xiao Yu'er yang duduk diam mengangkat kepalanya, merasakan keheningan yang jatuh seperti kabut.
Tianji melanjutkan dengan suara datar: "Waktu itu aku marah padamu. Kupikir kau hanya bicara sembarangan seperti biasanya. Tapi kau benar. Dia tidak pernah kembali."
"Tianji…" Yue'er menepuk bahu Tianji dengan lembut, sesuatu yang jarang ia lakukan. "Aku tahu kau masih sedih. Tapi dia meninggalkanmu dengan ilmu yang kuat. Dan sekarang kau mencari fragmen Kitab Suci Lautan untuk menyempurnakan MP-mu. Itu pasti yang dia inginkan."
"Apa kau yakin?"
Yue'er mengangkat bahu. "Apa yang bisa kuyakinkan dalam hidup ini? Tapi kalau ada orang yang percaya padamu, itu gurumu. Kalau dia tidak percaya kau bisa, dia tidak akan mewariskan MP padamu."
Perahu mulai bergerak meninggalkan pantai. Angin pagi menghembus layar, dan daratan perlahan mengecil di kejauhan. Tianji memegang kemudi dengan mantap, matanya terfokus pada cakrawala.
Lautan terbentang di depan mereka. Biru tanpa batas, seperti kanvas raksasa yang belum disentuh kuas. Sesekali burung camar terbang melintas, meninggalkan jeritan yang hilang ditelan suara ombak.
Xiao Yu'er membuka peta dan meletakkannya di pangkuannya. "Menurut peta ini, kita harus berlayar ke timur laut selama tiga hari. Lalu akan sampai di area yang disebut Karang Hitam."
"Karang Hitam?" Yue'er menyipitkan mata. "Kedengarannya tidak bersahabat."
"Konon di bawah laut Karang Hitam ada pusaran raksasa," kata Xiao Yu'er pelan. "Kapal-kapal besar pun bisa tersedot ke dasar laut kalau tidak hati-hati."
Yue'er mengerutkan kening. "Lalu bagaimana kita melewatinya dengan perahu kecil ini?"
Peta itu menunjukkan jalan alternatif — memutari Karang Hitam dari sebelah selatan, lalu melanjutkan ke utara menuju Pulau Terbang. Rutenya memang lebih panjang, tapi lebih aman.
"Setidaknya kita punya rencana," kata Tianji. "Yang penting sekarang jangan sampai kehilangan arah."
Mereka berlayar sepanjang hari tanpa insiden. Matahari bergerak dari timur ke barat, dan laut berubah warna — dari biru kehijauan di pagi hari menjadi biru gelap di sore hari, seperti permata safir yang cair.
Yue'er, yang tidak bisa diam terlalu lama, mulai mencari topik pembicaraan.
"Xiao Yu'er, bagaimana rasanya menjadi buronan Mawar Hitam selama ini?"
Xiao Yu'er menunduk. Jemarinya memainkan ujung jubahnya. "Aku… tidak tahu harus menjawab apa."
"Katakan saja yang sebenarnya. Aku tidak akan menghakimi."
"Sendiri," kata Xiao Yu'er akhirnya. "Rasanya seperti berjalan dalam kegelapan, tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Setiap orang yang kukenal bisa jadi mata-mata Mawar Hitam. Setiap senyuman bisa jadi jebakan."
Yue'er mengangguk perlahan. "Kau tahu… dulu sebelum aku bertemu Tianji, aku juga merasa seperti itu. Tidak punya siapa-siapa."
"Kau?" Xiao Yu'er mengangkat kepalanya, matanya sedikit membesar. "Tapi kau… kau selalu ceria. Tertawa. Banyak bicara."
"Itu topeng," kata Yue'er, dan untuk pertama kalinya suaranya tidak riang. "Kalau kau berhenti tertawa, orang akan bertanya kenapa. Lebih mudah tertawa daripada menjelaskan luka-lukamu."
Keheningan jatuh lagi. Ombak berdebur di lambung perahu. Tianji tetap diam di kemudi, tapi telinganya mendengar setiap kata.
"Aku tidak percaya begitu mudah," kata Xiao Yu'er. "Topeng bisa lepas."
"Maka kau harus pintar-pintar menjaganya," balas Yue'er, dan tiba-tiba senyumnya kembali. "Tapi tidak dengan orang-orang yang tepat. Dengan mereka, kau bisa menjadi dirimu sendiri."
"Aku tidak punya orang seperti itu."
"Sekarang kau punya." Yue'er menunjuk Tianji dengan ibu jarinya. "Dia memang pendiam dan wajahnya kayak batu, tapi hatinya bisa diandalkan. Aku sudah enam tahun bersamanya. Kalau dia mau mengkhianatiku, sudah dari dulu."
Tianji mendengus kecil. "Kau membuatku terdengar seperti pahlawan."
"Kau bukan pahlawan," kata Yue'er. "Kau hanya bocah desa yang kebetulan punya MP aneh. Tapi kau adalah bocah desa yang baik hati. Itu lebih penting daripada jadi pahlawan."
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menaburkan warna jingga dan merah ke seluruh permukaan laut. Air berkilau seperti kaca terbakar. Pemandangan yang begitu indah, tapi juga menusuk — keindahan alam yang mengingatkan mereka betapa kecilnya manusia di hadapan lautan.
"Kita harus berhenti?" tanya Xiao Yu'er.
"Laut terlalu dalam untuk jangkar di sini," jawab Tianji. "Lebih baik kita terus berlayar semalaman. Aku akan bergantian jaga dengan kalian."
"Aku bisa jaga," kata Yue'er. "Kau tidur dulu, Tianji. Kau yang paling lelah — semalaman kau tidak tidur."
Tianji hendak membantah, tapi Yue'er sudah mengambil posisi di kemudi. "Aku bisa mengemudikan perahu, percayalah. Kakekku mengajariku."
Xiao Yu'er juga menawarkan diri. "Aku bisa membantu mengawasi. Mataku tajam dalam gelap."
Tianji mengangguk dan merebahkan diri di dasar perahu, menggunakan tasnya sebagai bantal. Matanya masih terbuka, menatap bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit.
"Tianji," suara Yue'er terdengar pelan.
"Hm?"
"Terima kasih sudah membawaku."
Tianji tidak menjawab. Tapi sudut mulutnya terangkat sedikit.
Xiao Yu'er duduk di sisi perahu, mengamati Yue'er yang mulai bersenandung kecil sambil memegang kemudi. Lagu itu asing, semacam lagu rakyat dari daerah pantai barat. Syairnya bercerita tentang nelayan yang mencari istri di dasar laut.
"Menyenangkan sekali bersamanya," pikir Xiao Yu'er. "Seperti sinar matahari di tengah badai."
Beberapa jam berlalu. Malam semakin larut, dan bintang-bintang menghiasi langit seperti butiran pasir keemasan. Tidak ada bulan, dan laut menjadi gelap gulita. Hanya suara ombak yang menuntun mereka.
Yue'er sudah menyerahkan kemudi pada Xiao Yu'er. Ia berbaring di samping Tianji, matanya terpejam tapi pikirannya masih terjaga.
"Tianji, masih terjaga?" bisiknya.
"Hm."
"Aku mau tanya sesuatu."
"Tanya."
"Kalau nanti kita sampai di Pulau Terbang… dan kita menemukan sesuatu yang berbahaya… kau akan lari atau bertahan?"
Tianji membuka matanya. Dalam gelap, ia menatap langit berbintang. "Aku akan bertahan."
"Pasti?"
"Pasti."
Yue'er tersenyum dalam gelap. Lalu ia bergumam pelan, hampir tidak terdengar: "Kalau begitu, aku juga akan bertahan. Bersamamu."
Di kejauhan, di ufuk timur, gumpalan awan hitam mulai terbentuk. Tidak ada yang menyadarinya.
Satu jam kemudian, angin berubah arah tiba-tiba.
Tianji yang setengah tertidur langsung tersadar. Ia merasakan perubahan tekanan udara — naluri yang diasah selama bertahun-tahun latihan di Gunung Qingcheng. Ia bangkit dan melihat ke langit.
"Awan hitam," katanya. "Badai."
"Apa?" Yue'er ikut bangkit. "Tadi kau bilang tidak akan ada badai!"
"Aku salah."
"KAU SALAH?!" Yue'er menjerit. "Sekarang kau baru bilang salah?! Tianji, kalau kita mati karena badai, aku tidak akan memaafkanmu!"
"Aku juga," Tianji menjawab datar. "Tapi lebih baik kita mati karena badai daripada karena Karma."
Xiao Yu'er yang memegang kemudi sudah mulai kesulitan. Layar perahu berkibar-kibar keras, angin menderu-deru semakin kencang. Ombak yang tadinya tenang berubah menjadi ganas dalam hitungan menit.
"Turunkan layar!" teriak Tianji.
Yue'er langsung bergerak. Dengan cekatan ia menarik tali layar, tapi tali itu tersangkut di katrol. "Sial! Macet!"
"Aku bantu!" Xiao Yu'er melompat, meninggalkan kemudi.
"Jangan tinggalkan kemudi!" teriak Tianji.
Tapi sudah terlambat. Tanpa kendali, perahu berputar liar, terkena ombak dari samping. Air laut menyembur masuk, membasahi seluruh badan perahu.
Yue'er jatuh ke dasar perahu ketika perahu miring tiba-tiba. "Tianji! Xiao Yu'er! Pegangan!"
Tianji meraih pinggir perahu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengeluarkan kekuatan MP-nya. Qi hitam menyala redup di tangannya — tapi apa yang bisa ia lakukan melawan badai? MP-nya tidak dirancang untuk mengendalikan alam.
"Lebih besar lagi!" raung angin seolah hidup.
Ombak setinggi pohon kelapa menghantam perahu dari depan. Perahu terangkat ke atas, lalu jatuh bebas ke lembah ombak. Perut mereka seperti melayang, dan untuk sesaat, dunia terasa tidak berbobot.
"Aaaaaarrrgggghhh!" Yue'er menjerit, bukan karena takut tapi karena marah. "Aku tidak mau mati konyol begini! Belum sempat lihat Pulau Terbang!"
"Aku pegang!" Xiao Yu'er yang hampir terlempar berhasil mencengkeram pinggir perahu dengan seluruh kekuatannya.
Tianji, dengan konsentrasi penuh, mengarahkan tangannya ke layar yang masih berkibar-kibar. Qi hitam melesat, memotong tali layar seperti pisau. Layar jatuh ke dasar perahu, dan perahu kehilangan tenaga penggerak — tapi setidaknya tidak lagi terkoyak angin.
"Dayaung! Dayung untuk mengarahkan perahu melawan ombak!" teriak Tianji.
Yue'er dan Xiao Yu'er mengambil dayung masing-masing. Dengan susah payah, mereka mendayung berbarengan, mencoba mengarahkan haluan perahu ke arah ombak agar tidak tenggelam oleh hantaman dari samping.
Tianji tetap di kemudi, merasakan setiap gerakan laut dengan nalurinya. Ia bukan pelaut, tapi MP-nya yang sudah di Level 2 memberinya kepekaan yang lebih tajam. Ia bisa merasakan aliran Qi air di sekelilingnya — dingin, liar, dan tanpa ampun.
"Ke kiri! Dayung ke kiri!" perintahnya.
Mereka mendayung dengan seluruh tenaga. Ombak terus menghantam, hujan mulai turun deras. Dunia menjadi campuran air, angin, dan kegelapan.
Entah berapa lama mereka bertarung melawan badai. Setengah jam? Satu jam? Yang pasti, lengan mereka sudah pegal, baju mereka basah kuyup, dan perahu sudah setengah penuh air.
"Aku… tidak… kuat…" Xiao Yu'er terengah-engah.
"Kau harus kuat!" Yue'er menjerit. "Kita tidak akan mati di sini!"
Tianji merasakan Qi-nya hampir habis. Ia sudah terlalu banyak menggunakan MP-nya untuk melindungi perahu dari hantaman ombak, dan cadangan Qi hitam di dalam tubuhnya menipis. Ia perlu istirahat, tapi badai tidak mau menunggu.
Baru saja Tianji hendak mengeluarkan sisa Qi-nya, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara gemuruh yang berbeda. Bukan suara ombak. Bukan suara guntur. Tapi suara air yang jatuh dari ketinggian.
"Air terjun?" pikir Tianji. "Di tengah laut?"
Dari balik tirai hujan, samar-samar muncul siluet — sebuah pulau. Bentuknya tidak jelas, tapi pasti ada daratan di depan mereka.
"Pulau! Ada pulau!" teriak Yue'er. "Dayung ke sana!"
"DOR!"
Perahu menghantam sesuatu yang keras — sebuah karang di bawah permukaan. Kayu perahu retak, dan air mulai masuk deras.
"Perahunya bocor!" Xiao Yu'er panik.
"Loncat! Tinggalkan perahu!" teriak Tianji.
Ia meraih lengan Yue'er dan Xiao Yu'er, lalu dengan sekuat tenaga menarik mereka ke samping — tepat sebelum ombak besar menghancurkan perahu menjadi kepingan.
Mereka tercebur ke laut yang dingin dan ganas. Tianji mencengkeram kerah baju Yue'er, Xiao Yu'er meraih pinggang Tianji. Ombak menghempaskan mereka ke sana kemari, tapi Tianji terus berenang maju, mengarah ke siluet pulau yang semakin dekat.
Kakinya menyentuh pasir. Dasar laut!
"Sudah dangkal!" teriak Tianji. "Berdiri!"
Yue'er dan Xiao Yu'er mengikuti. Air setinggi dada, tapi mereka sudah bisa berdiri. Dengan sisa tenaga, mereka berjalan merangkak ke pantai, menjauh dari amukan ombak.
Tianji jatuh berlutut di pasir basah, terengah-engah. Yue'er tergeletak di sampingnya, sementara Xiao Yu'er memuntahkan air laut yang tertelan.
"Kita… selamat…" bisik Yue'er, lalu tertawa lelah. "Kau tidak akan percaya… Tianji… kita selamat…"
Tianji tidak menjawab. Ia menatap ke sekeliling — pulau kecil yang tidak dikenal, pantai berbatu, hutan gelap di kejauhan. Tidak ada cahaya, tidak ada tanda kehidupan manusia.
Mereka terdampar di entah di mana.
Dan badai masih mengamuk di belakang mereka, seolah laut tidak puas telah melepaskan mangsanya.
"Selamat datang di Pulau… apa pun namanya," gumam Tianji.
Di kegelapan malam, dari dalam hutan, samar-samar terdengar suara — seperti langkah kaki di atas daun kering. Tidak jelas. Tapi pasti ada.
Mereka tidak sendirian.
[— BERSAMBUNG —]